Jumat, 07 Oktober 2011

Ekonomi Pancasila

Dicetuskan oleh Soekarno-Hatta, didengungkan kembali oleh Emil Salim dan di kembangkan oleh Mubyarto. Meski bukan yang pertama dan yang satu-satunya, tapi di tangan beliaulah Ekonomi Pancasila berkembang dan menemukan bentuknya. Tak heran jika nama Mubyato ini kemudian lekat dan identik dengan Ekonomi Pancasila. Begitupun sebaliknya.

Tanggal 24 Mei tahun ini tepat tiga tahun kepergian beliau. Ekonomi Pancasila adalah jejak intelektual yang beliau tinggalkan. Perjalanan intelektualnya di awali dengan menyelesaikan gelar sarjananya pada Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (1959). Gelar Master di Vanderbilt University (1962) dan Doktornya diselesaikan diIowa State University (1965).

Selama hidupnya, beliau aktif di berbagai kegiatan dan organisasi. Di dunia teoritisi beliau adalah dosen di Fakultas Ekonomi Unversitas Gadjah Mada. Dunia praksisi beliau tekuni dengan aktif di lembaga/pusat studi, termasuk pernah menjabat sebagai anggota MPR-RI. Di tahun 1979 beliau di tetapkan sebagai Guru Besar Ekonomi pada almamaternya..

Konsistensi beliau untuk memperjuangkan Ekonomi Pancasila terlihat dari dibentukan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) di Universitas Gadjah Mada tanggal 12 Agustus 2002. PUSTEP UGM mengadakan kajian-kajian teoritis maupun praksis sebagai bahan menyusun prinsip-prinsip umum menjalankan Ekonomi Pancasila,yaitu rumusan konkrit bagaimana bekerjanya ekonomi Pancasila (Mubyarto, 2003).Di lembaga ini beliau menjabat sebagai kepala.

***
Berawal dari kegelisahan terhadap perkembangan dan implementasi ilmu ekonomi. Beliau merasa bahwa hubungan antara ekonomi dan keadilan sangatlah jauh. Terlebih jika melihat yang tejadi di sekitar, yaitu kebijakan ekonomi yang di tempuh oleh banyak negara, termasuk Indonesia (Mubyarto,1981).
Dalam implementasi ekonomi neoklasik terbukti tidak mampu menyelesaikan permasalahan ekonomi. Bahkan dituding menjadi penyebab munculnya permasalahan baru. Berbeda jauh dengan teorinya yang diajarkan di institusi pendidikan.

Teori ekonomi yang berkembang lahir pada abad 18 dalam suasana keinginan adanya kebebasan (liberalisme) di dunia barat (Mubyarto,1980). Menafikan peran agama dan mengabaikan peran ilmu sosial lainnya.

Indikasi kegagalan ekonomi neoklasik diantaranya terlihat dari relevansi teorinya yang hanya sesuai dengan sebagian kecil perekonomian dan untuk konteks Indonesia teori ekonomi klasik lebih berkembang sebagai seni daripada sebagai ilmu (Mubyarto, 1979). Teori ekonomi sosialis sebagai altermatif pun terbukti tidak berdaya melawan dominasi perkembangan terori ekonomi neoklasik ini.
Semangat beliau untuk membangun teori ekonomi yang lebih realistik, manusiawi tanpa meninggalkan nilai lokal bangsa Indonesia kemudian tertuang dalam konsep Ekonomi Pancasila. Konsep ini lahir di bumi Indonesia, digali dari filsafat bangsa Indonesia dan kemudian dianggap paling tepat mengarahkan perjalanan bangsa Indonesia menuju masarakat adil dan makmur (Mubyarto,1980).
Ekonomi pancasila di definisikan sebagai sistem ekonomi yang di jiwai ideologi Pancasila yang merupakan usaha bersama yang berasaskan kekeluagaan dan kegotongroyongan nasional.




Memiliki lima ciri :

1. Roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral.

2. Kehendak kuat dari seluruh masyarakat ke arah keadaan kemerataan sosial (egalitarianisme), sesuai asas-asas kemanusiaan.

3. Prioritas kebijakan ekonomi adalahpenciptaan perekonomian nasionalyang tangguh yang berarti nasionalisme menjiwai tiap kebijakan ekonomi.

4. Koperasi merupakan saka guru perekonomian dan merupakan bentuk paling kongkrit dari usaha bersama.

5. Adanya imbangan yang jelas dan tegas antara perencanaan di tingkat nasional dengan desentralisasi dengan pelaksanaan kegiatan ekonomi untuk menjamin keadilan nasional.

***
Keberadaan Ekonomi Pancasila ini pun tidak perlu dibatasi hanya oleh dua kutub saja tetapi dapat diluarnya . Sistem Ekonomi Pancasila merupakan sistem ekonomi campuran yang mengandung pada dirinya ciri-ciri positif dari kedua sistem ekstrim yang dikenal yaitu kapitalis-liberalis dan sosialis-komunis (Mubyarto, 1980). Berbeda dengan ekonomi peraturan yang jelas antitetikal dengan makna Ekonomi Pancasila sebagai wadah berkembangnya manusia Indonesia seutuhnya. Dalam Ekonomi Pancasila, satu sumber legitimasi diambilnya tindakan pengaturan dalam pembatasan kebebasan usaha adalah adanya ekses negatif dari setiap tindakan (Mubyarto, 1981).

Peranan unsur agama sangat kuat dalam konsep Ekonomi Pancasila. Karena unsur moral dapat menjadi salah satu pembimbing utama pemikian dan kegiatan ekonomi. Kalau moralitas ekonomi Smith adalah kebebasan (liberalisme) dan ekonomi Marx adalah diktator mayoritas (oleh kaum proletar) maka moralitas Ekonomi Pancasila mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sehingga pelaku Ekonomi Pancasila tidak hanya sebagai homo economicus tapi juga homo metafisikus dan homo mysticus (Mubyarto, 1986).

Pelaku-pelaku ekonomi inilah yang secara agregatif menciptakan masyarakat yang berkeadilan sosial dan besifat sosialistik yaitu adanya perhatian yang besar pada mereka yang tertinggal (Mubyarto, 1981).
Ditambah dengan semangat nasionalistis dan kesungguhan dalam implementasi, Ekonomi pancasila akan mampu menciutkan kesenjangan kaya-miskin atau mampu mencapai tujuan pemerataan (Mubyarto, 1986).

Kompleksitas permasalah manusia dengan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan monodisiplin. Oleh karena itu Ekonomi Pancasila menggunakan pendekatan intrdisipliner. Upaya pengembangan teori Ekonomi Pancasila erat kaitanya dengan perkembangan ilmu sosial antara lain sosiologi, antopologi, ilmu politik bahkan ilmu sejarah. Dengan demikian teori Ekonomi Pancasila akan berkembang tetapi memerlukan bantuan ahli teori. Ahli pemikir haruslah tokoh pemikir yang mampu menggali pikiran2 asli Indonesia (Mubyarto, 1980), dan mampu mencari titik keseimbangan antara berfikir kritis analitik dalam menganalisis masa kini dan metafisik filsafati untuk meramal masa depan (Mubyarto,1981).



Sistem ekonomi pancasila masuk di market economy/liberal , command economy/sosialis atau mixed economy?

menurut saya berdasarkan latar belakang pembentukan sistem ekonomi pancasila ini, sistem ini tidak termasuk dalam 3 sistem diatas, tapi sistem ini hanya mengandung unsur-unsur positif dari sistem ekonomi liberal dan sosialis, tapi bukan termasuk dalam mixed economy. Sistem ekonomi pancasila merupakan sistem ekonomi yang baru (khusus di Indonesia) yaitu sistem ekonomi yang hampir mirip dengan sistem ekonomi campuran hanya saja di sistem ekonomi ini di kembangkan lagi berdasarkan dasar Negara yaitu pancasila dan UUD1945. Tata ekonomi Pancasila adalah : suatu tata ekonomi yang dijiwai ideologi Pancasila, suatu tata ekonomi nasional yang merupakan usaha bersama dan berazaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dibawah pimpinan pemerintah. Contoh: Berdasarkan Pasal 33, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Senin, 26 September 2011

The Pay Model [ Manajemen Kompensasi ]




Setiap industri atau perusahaan mengembangkan model kompensasi mereka berdasarkan 3 model dasar yaitu :

1. Tujuan Kompensasi
2. Kebijakan strategic yang membentuk dasar dari sistem kompensasi
3. Teknik Kompensasi


1. Tujuan Kompensasi

Sistem kompensasi di rancang dan dikelola untuk mencapai tujuan tertentu di setiap perusahaan, tujuannya adalah :

• Efisiensi
• Ekuitas/ keadilan
• Kepatuhan terhadap peraturan dan hukum


Tujuan dari Efisiensi adalah:

• Meningkatkan Kinerja
• Meningkatkan Kualitas
• Memuaskan pelanggan dan stockholder/ pemegang saham
• Mengontrol biaya tenaga kerja

Tujuan dari Ekuitas adalah:

• Merancang sistem pembayaran berdasarkan kontribusi karyawan
• Merancang sistem pembayaran berdasarkan kebutuhan karyawan
• Memastikan perlakuan yang adil bagi semua karyawan
• Mengakui kontribusi karyawan / kebutuhan


Ekuitas adalah dasar untuk sistem kompensasi. Ekuitas yaitu memberikan perlakuan yang adil bagi semua karyawan dan meberika pembayaran yang adil bagi setiap karyawan. Jadi ekuitas yaitu upaya untuk menjamin perlakuan yang adil bagi semua karyawan.
Tujuan ekuitas dalam model bayar mempengaruhi sikap karyawan dan perilaku serta kepatuhan terhadap peraturan organisasi.


Kepatuhan terhadap peraturan dan hukum:

Tujuan dari kepatuhan adalah:

Kepatuhan sebagai tujuan pembayaran harus sesuai dengan hukum kompensasi. jika hukum dan peraturan, sistem pembayaran perlu disesuaikan untuk memastikan kelantujan kepatuhan terhadap hukum.

Tujuan mendasar dari sistem Pembayaran adalah mendefinisikan keadilan, dengan keadilan akan sangat membantu untuk meningkatkan kinerja karyawan, karna karyawan diiperlakukan adil disetiap situasi..


2. Kebijakan Stratejik :

Macam-macam kebijakan strategic :

1. Konsistensi Internal/ keselarasan internal
2. Daya saing eksternal,
3. Kontribusi karyawan
4. Administrasi sistem pembayawab.



• Konsistensi internal:

Hal ini mengacu pada perbandingan antara pekerjaan atau tingkat ketrampilan di dalam organisasi tunggal. Pekerjaan dan keterampilan yang dibandingkan yaitu dalam hal kontribusi relatif mereka terhadap tujuan organisasi. Konsistensi internal menjadi faktor dalam menentukan tingkat upah baik untuk karyawan melakukan pekerjaan yang sama dan bagi mereka yang melakukan pekerjaan yang berbeda.

Kebijakan konsistensi internal mempengaruhi semua tiga tujuan kompensasi. Hubungan pembayaran dalam organisasi berdampak karyawan untuk menetap di suatu organisasi, untuk menjadi lebih fleksibel dengan berinvestasi dalam pelatihan tambahan. Dengan memotivasi mereka untuk meningkatkan hubungan pembayaran secara tidak langsung mempengaruhi efisiensi tenaga kerja dan efektifitas keseluruhan organisasi



• Daya saing eksternal:

Ini mengacu pada bagaimana bos membayar job dengan yang  kompetitor bayar, arti kata membandingkan kompensasi perusahaan satu dengan perusahaan yg lain. Kebijakan tentang daya saing eksternal memiliki efek tujuan yaitu:
Untuk memastikan bahwa pembayarannya cukup untuk merekrut dan mempertahankan karyawan,Untuk mengontrol biaya tenaga kerja sehingga harga produk organisasi atau jasa dapat tetap kompetitif. Kita dapat mengatakan bahwa daya saing eksternal secara langsung mempengaruhi efisiensi dan pemerataan.
Daya saing eksternal membantu dalam pengaturan tingkat pembayaran organisasi, dengan cara melihat cara pembayaran kompetior kita terhadap karyawan dengan tingkat/pekerjaan yg sama.

• Kontribusi kayawan:

Hal ini mengacu pada penekanan relatif yg ditempatkan pada kinerja. Penekanan ini penting karena langsung mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan bekerja. Dengan kata lain jika kinerja karyawan meningakat maka akan di berikan upah tambahan.


• Administrasi Sistem pembayaran:

Kebijakan tentang administrasi sistem membayar adalah blok bangunan terakhir dalam model kompensasi. Hal ini dimungkinkan untuk merancang suatu sistem yang memiliki semua tujuan di atas, tetapi tujuan-tujuan tidak dapat dicapai kecuali jika dikelola dengan baik. Para manajer harus merencanakan elemen pembayaran yang termasuk dalam sistem, komunikasi dengan karyawan dan menilai apakah sistem ini mencapai tujuan. informasi tersebut diperlukan untuk tuine atau mendesain ulang sistem, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan untuk menyoroti potensi daerah untuk penyelidikan lebih lanjut.

3. Teknik Pembayaran

• Struktur internal / Konsistensi internal biasanya dibangun melalui analisis dari pekerjaan yang dilakukan dan orang-orang yang dibutuhkan untuk melakukannya. Informasi tentang orang dan / atau pekerjaan dikumpulkan, terorganisir, dan dievaluasi. Berdasarkan evaluasi ini, struktur kerja dirancang.

Struktur ini menggambarkan hubungan antara pekerjaan dan keahlian atau kompetensi di dalam organisasi. Hal ini didasarkan pada kepentingan relatif dari pekerjaan dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuannya adalah untuk membentuk struktur yang selaras dengan dan mendukung tujuan organisasi. Pada gilirannya, kewajaran sistem membayar mempengaruhi sikap karyawan dan perilaku serta kepatuhan terhadap peraturan organisasi.

• Setelah analisis pekerjaan dilakukan perusahaan perlu memutuskan struktur pembayaran. Struktur pembayaran mengacu pada proses pengaturan pembayran untuk pekerjaan dalam sebuah organisasi. Proses ini berhubungan dengan analisis internal dan eksternal untuk memperkirakan paket kompensasi untuk suatu pekerjaan/jabatan. Ekuitas internal, ekuitas eksternal dan ekuitas individu adalah struktur pembayaran paling populer. Deskripsi pekerjaan memberikan pengetahuan yang mendalam tentang profil pekerjaan dan nilainya.

Struktur pembayaran adalah penentu kuat nilai karyawan dalam organisasi. Ini membantu dalam menganalisis peran dan status karyawan dalam organisasi. Ini memberikan perlakuan yang adil bagi semua karyawan. Struktur pembayaran juga termasuk dalam estimasi insentif.

• Penekanan relatif pada kontribusi karyawan dilakukan melalui peningkatan kinerja dan / atau senioritas berbasis, rencana insentif, dan opsi saham dan pendekatan berbasis kinerja lainnya. Semakin, organisasi di Kanada dan di seluruh dunia menggunakan beberapa bentuk dari rencana insentif untuk berbagi kesuksesan mereka dengan karyawan. Selain biaya pengelolaan, praktik-praktik ini dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap karyawan dan perilaku, khususnya keputusan untuk bergabung dengan organisasi, untuk tinggal, dan bekerja efektif.

Kamis, 28 April 2011

8 Jenis pekerjaan (bahan kuliah Entrepreneur)

Sebelum memulai sesuatu usaha, kita harus mempelajari dan memahami karakter yang kita miliki. Dengan mengetahui karakter mana yang cocok dengan diri kita, maka sebagai individu yang sadar, akan dapat menjalani karir dengan tepat yang pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Adapun jenis pekerjaan dapat dibagi menjadi 8 jenis,

1. Accumulator merupakan type pekerja yang menanam dahulu dan menuai kemudian, bukan hanya dalam arti harfiah tetapi mungkin saja dalam bentuk usaha ataupun investasi. Personality yang dimiliki biasanya adalah cermat dan sabar. Contohnya adalah waren bufet (jual beli saham).

2. Trader tipe pekerja yang hampir sama dengan Accumulator tetapi dalam proses menuai hasil tipe trader ini melakukan dalam tempo yang lebih cepat, contohnya adalah George Soros. Kekayaan yang dimilikinya adalah 63 kali dari kapitalisasi seluruh saham diindonesia. Bisa dibayangkan, jika George soros melakukan manuver investasinya, kemungkinan besar akan dapat mengganggu perekonomian dunia. Krisis 1998 di Indonesia diyakini sebagai dampak dari investasi yang dilakukan oleh George soros.

3. Deal Maker, menghubungkan penjual dan pembeli, istilah kerennya adalah broker atau calo atawa makelar. Tipe ini biasanya mengambil fee dari jasa yang dilakukannya. Tidak memerlukan modal besar, yang penting adalah kejelian dalam melihat peluang yang ada. Jeli melihat peluang, jeli melihat siapa yang bisa dihubungkan, biasanya pintar bicara. Contohnya adalah Donald Trump. Bisnisnya adalah jual beli perusahaan, beli perusahaan bangkrut, dibeli, diperbaiki dan dijual kembali. Karya fenomenalnya adalah penggabungan Sonny dan Erickson.

4. Suppoter, orang yang mendapatkan penghasilan karena menjalankan sistem yang sudah ada dalam organisasi, profesional, karyawan. Contohnya adalah Jack Well, CEO general electric, prestasi Jack Well adalah dalam kepemimpinannya GE mencapai peringkat 1 dan 2 pada era tahun 1980 sampai 1990 an. Sehingga pada saat pensiun, Jack Well mendapatkan hadiah bonus sebuah pulau.

5. Star, Pernghasilan karena menjual kemampuannya didepan umum, seperti guru, dosen, artis, atlit. Contohnya adalah elvis presley.

6. Creator, menciptakan produk/jasa secara berkesinambungan, programer, pengarang, pelukis contohnya adalah Bill Gates, menciptakan MS Dos, Windows 95 sampai Vista, pemilik Microsoft, tetapi masih tetap bekerja dan mencipta. Tipe ini bekerja karena merasakan kebutuhan untuk terus berkarya, dengan motto “kerja merupakan kenikmatan”.

7. Mechanic, orang yang bekerja menciptakan sistem didalam organisasi, contoh pekerjaan , konsultan, pemilik perusahaan. Ree Crock pendiri Mc Donald, kolonel Sander pendiri KFC.

8. Lord/Raja/Tuan Tanah/ Juragan, mendapatkan penghasilan karena memiliki asset yang bekerja secara otomatis bagi mereka. Contohnya adalah MLM posisi puncak, investasi, Deposito, bisnis sewa property. Bentuk bisnis yang umum dimiliki oleh Lord adalah Franchise. Contoh lord adalah sultan Brunei, karena memiliki aset 168 tambang minyak dan emas yang mengisi pundi-pundi milikinya.

Semuanya kalau dapat memaksimalkan yang dimiliki, pada dasarnya akan berakhir di LORD. Untuk dapat berhasil dalam melakukan suatu pekerjaan, adalah anda harus bekerja atau berusaha pada bidang yang paling anda sukai. Bidang yang paling anda sukai adalah suatu pekerjaan yang tetap akan anda kerjakan walaupun tanpa dibayar sekalipun (karena menikmati pekerjaan tersebut). kalo gak salah nih di sadur dari websitenya si Roger (www.rogerhamilton.com)

Entrepreneur atau kewirausahaan dalam prakteknya tidak seindah teorinya, terutama tahun-tahun pertama, pengalaman dilapangan lebih berharga dariada ilmu yang diperoleh dari teks book. Kalau anda belajar dari teks book, maka akan menjadi pintar, sedangkan jika belajar dari lapangan, anda akan menjadi kaya.

Analisa Porter’s Five Forces


Vibizmanagement – Strategic) – SWOT Analysis adalah suatu analisa yang dilakukan sebelum bisnis merancang sebuah strategic plan. Salah satu tools yang digunakan untuk membuat SWOT Analysis diantaranya adalah Porter Five Forces analysis, yang memberikan gambaran mengenai bagaimana posisi bisnis kita di dalam suatu industri.
Analisa Porter’s Five Forces memberikan gambaran yang powerful mengenai bagaimana tingkat persaingan dari suatu industri, baik itu dari sisi supply chain (supplier dan pelanggan) serta pasar (pemain baru dan substitusi). Keempat dari forces (dorongan) ini memberikan kontribusi terhadap competitive rivalry atau tingkat persaingan dalam industri.

The threat of a substitute product
Bagaimana substitusi terhadap barang/jasa Anda? Apakah konsumen dapat memperoleh barang substitusinya dengan mudah? Semakin banyak dan dekat barang substitusi, maka pelanggan juga bisa beralih dengan mudah. Force ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya switching cost, kecenderungan untuk substitusi, diferensiasi produk, dan lainnya.
Contoh, misalnya untuk teh botol, kecenderungan substitusinya lebih besar. Misalnya jika Anda ke suatu kios tertentu, dan ingin membeli Fruit Tea, namun nyatanya hanya ada Teh Botol Sosro, tentunya Anda tidak akan bersikeras untuk mencari Fruit Tea bukan? Ini berarti ancaman substitusi tinggi. Perbedaan antara kedua merek hanya sedikit saja, dan tidak ada biaya switching cost antara dua merek tersebut.

The threat of the entry of new competitors
Bagaimana tingkat kesulitan/kemudahan bagi pesaing baru untuk masuk ke dalam industri Anda? Force ini antara lain dipengaruhi oleh brand equity, hambatan masuk seperti paten dsb, distribusi, skill atau core competence tertentu, economies of scope, cost advantage, dan lainnya.
Contoh, misalnya Anda bergerak di industri ritel online, maka ancaman akan munculnya pesaing baru sangatlah tinggi. Zaman semakin maju, dan akses terhadap internet juga semakin mudah. Individual pun kini dapat berjualan secara online, misalnya dengan memanfaatkan blog, forum, ataupun situs social network seperti Facebook.

The bargaining power of customers
Bagaimana kekuatan yang dimiliki pelanggan Anda? Force ini antara lain dipengaruhi oleh: jumlah pembeli, konsentrasi pembeli, switching cost pembeli, ketersediaan barang, besar order pembeli, sensitivitas harga, tingkat diferensiasi, dan sebagainya.
Misalnya, Anda memiliki sebuah ritel premium dengan pelanggan-pelanggan kelas atas. Pada kelompok pelanggan tersebut, sekitar 60% penjualan berasal dari 20% pelanggan. Artinya, konsentrasi pembeli cukup tinggi, sehingga pembeli punya kekuatan yang lebih tinggi. Switching cost bagi pembeli pun tidak ada, sementara bagi Anda sulit untuk memperoleh pelanggan baru lagi.

The bargaining power of suppliers
Supplier merupakan tempat dimana kita membeli input yang digunakan untuk bahan produksi. Force ini ditentukan oleh beberapa factor diantaranya: switching cost ke supplier lain, jumlah supplier, konsentrasi supplier, ketersediaan substitusi input, tingkat diferensiasi input, hingga tingkat hubungan dengan supplier.
Misalnya, supplier obat-obatan untuk rumah sakit, pada umumnya punya tingkat konsentrasi tinggi. RS biasanya punya langganan kepada segelintir perusahaan farmasi tertentu. Dalam kasus ini, berarti bargaining power of supplier tinggi karena supplier terkonsentrasi pada sekian kecil saja.

The intensity of competitive rivalry
Bagaimana intensitas persaingan dalam industri Anda? Semakin banyak jumlah pesaing, dengan produk yang berkualitas dan harga bersaing, maka semakin tinggi tingkat persaingan. Force ini ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: jumlah pesaing, perbedaan kualitas, loyalitas pelanggan, diferensiasi produk, perbedaan harga, exit barriers, dan sebagainya.
Contoh industri dengan intensitas persaingan yang tinggi adalah industri telekomunikasi. Industri telekomunikasi sendiri punya prospek growth yang tinggi, karena orang selalu membutuhkan komunikasi dan ditunjang oleh pertumbuhan penduduk. Kemudian, exit barriers juga tinggi, karena perusahaan tentunya sudah menginvestasikan infrastruktur telekomunikasi yang tidak murah. Saat ini, operator melakukan perang harga dalam menjaring konsumen, sementara switching cost pun rendah.
Analisa Five Forces Porter ini digunakan pada level industri, dan dapat diaplikasikan pada segala macam industri. Pengertian industri disini adalah serangkaian bisnis yang menawarkan produk/jasa yang sejenis. Seandainya satu perusahaan bergerak di berbagai macam industri, maka ia tidak bisa hanya membuat satu analisis saja. Analisa ini perlu dibuat pada masing-masing industri dimana ia bergerak.
Demikian adalah ulasan dan contoh mengenai Analisa Five Forces Porter yang powerful, terutama dalam melakukan SWOT Analysis dan Strategic Plan. Dengan memahami bagaimana posisi kita dalam industry, maka selanjutnya dapat dirancang strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan.

Tujuan Lima-forces Analisis Porter
• Dapat digunakan untuk memenangkan persaingan
• Dapat memeriksa apa kompetisi yang sudah ada dalam industri yang akan dimasukkan
• analisis SWOT dapat menentukan

Strategi “4P” vs “4C”

Sangat menarik tulisan Pak Suyanto minggu yang lalu yang berjudul “Strategi Baru 4P”. Pak Suyanto menawarkan pemikiran baru tentang konsep 4P yang selama ini sudah sangat dikenal sebagai bauran pemasaran, yaitu product, price, place, dan promotion, dengan strategi baru yaitu product (inti), process, performance, dan person agar dapat memenangkan persaingan jangka panjang.

Sudut pandang konsep tersebut lebih berorientasi dari perusahaan ke konsumen. Akan tetapi bagaimana konsep tersebut jika dilihat menggunakan kacamata konsumen? Bukankah semua strategi tersebut digunakan untuk menarik konsumen? Karena keberadaan konsumen sangat berarti bagi suatu bisnis, maka mau tak mau menjadi keharusan bagi setiap bisnis untuk menempatkan konsumen sebagai fokusnya. Untuk melengkapi konsep 4P di atas, ada baiknya kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi konsumen, apabila dia berniat membeli product (barang, jasa, dan ide) yang ditawarkan oleh perusahaan, sebenarnya yang dia pertimbangkan adalah valuenya (Customer value). Dengan kata lain sebetulnya yang dibeli konsumen bukan sekedar product perusahaan tetapi lebih pada value yang diberikan oleh produk tersebut. Value ini diperoleh konsumen tak hanya dari fisik produknya tetapi juga value lain yang bisa berupa image atau juga pelayanannya (service). Sebagai contoh ketika memilih Garuda, konsumen tidak sekedar membeli jasa transportasi udara, tetapi value yang lain seperti prestise, safety, atau ketepatan waktu. Hal itu yang menjadikan Garuda berbeda valuenya dibandingkan penerbangan yang lain.

Price (harga) yang ditawarkan oleh perusahaan, dilihat dari kacamata konsumen adalah Cost, atau biaya yang harus dibayarkan. Cost yang harus dikeluarkan oleh konsumen tak hanya yang berupa uang (monetary cost) tetapi juga termasuk cost yang lain seperti waktu dan tenaga untuk mendapatkan suatu produk. Ketika suatu barang dijual dengan harga lebih murah dengan tujuan agar dapat bersaing, akan tetapi untuk mendapatkannya konsumen harus antre 5 jam, berdesakan, atau pesan lebih dulu dengan telepon bolak-bolak, maka kemungkinan konsumen akan mundur karena cost yang ditanggung tak sebanding dengan selisih harganya.

Promotion (promosi) yang dilakukan perusahaan dengan above the line seperti iklan di berbagai media, maupun yang bersifat below the line dengan berbagai event marketing seperti di jalan-jalan atau pasar dan pameran, esensinya adalah Communication. Oleh sebab itu, agar komunikasi tepat sasaran dan menjadikan konsumen aware terhadap product yang ditawarkan perlu memperhatikan kesesuaian jenis produk dengan segmen yang dituju, media yang dipilih maupun jenis komunikasi yang akan digunakan.

Place (lokasi) bagi bisnis tertentu dipandang sebagai variabel yang sangat menentukan bagi keberlanjutan sebuah bisnis. Akan tetapi bagi konsumen hal tersebut tidak mutlak, yang menjadi perhatian konsumen lebih pada kenyamanan dan kemudahan memperoleh produk/jasa yang diinginkan. Dengan kata lain sisi convenience suatu product menjadi fokus konsumen, seperti produk mudah dicari, selalu ada jika diperlukan dan mencukupi.

Dengan melihat bauran pemasaran dari dua sisi, perusahaan dan konsumen, maka diharapkan perusahaan menjadi tidak hanya berpikir “Apa yang harus dilakukan perusahaan untuk menjalankan bisnis?” tetapi juga memperhatikan “Apa yang sebetulnya diharapkan konsumen terhadap bisnis perusahaan?”

Jumat, 18 Maret 2011

Mengubah Format File Tanpa Menggunakan Software

hmmm...
Setelah utak atik komputer, saya menemukan hal yang menarik lohh...
waktu saya mau membuka file .rar, ternyata tidak bisa dibuka. Saya bingung dan hampir frustasi !!
tapi saya gag menyerah, saya utak atik terus dan akhirnya ketemu jawabannya.!! :D
saya akan memberikan jawabannya kepada kalian semua...





Pertama kita harus memunculkan ekstention pada file tersebut, caranya:


Buka Windows Explorer, lalu klik tools > Folders Options > View > lalu uncheck pilihan hide extentions for known file types.


Setelah itu baru nanti file-nya akan kelihatan ekstensionnya, misalnya yang semula judul filenya TuneUp 2011 menjadi TuneUp 2011.rar


Nah,, selanjutnya .rar di belakang nama fule tersebut ganti menjadi .avi atau sesuai keperluannya.


Oh ya, jangan lupa mengembalikan uncheck pilihan hide extentions for known file types supaya nanti tidak terjadi kesalahan dalam merubah nama file pada file yang lainnya.


satu lagi,, cara ini juga bisa mengubah format audio, video, dll




Selamat Mencoba iah... ;)

Selasa, 01 Maret 2011

Prinsip Good Corporate Governance (GCG)

Terdapat lima prinsip GCG yang dapat dijadikan pedoman bagi para pelaku bisnis, yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Indepandency dan Fairness yang biasanya diakronimkan menjadi TARIF. Penjabarannya sebagai berikut :

1. Transparency (keterbukaan informasi)

Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam mewujudkan prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat, tepat waktu kepada segenap stakeholders-nya.

2. Accountability (akuntabilitas)

Yang dimaksud dengan akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, system dan pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban dan wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi.

3. Responsibility (pertanggung jawaban)

Bentuk pertanggung jawaban perusahaan adalah kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, diantaranya; masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini, diharapkan akan menyadarkan perusahaan bahwa dalam kegiatan operasionalnya, perusahaan juga mempunyai peran untuk bertanggung jawab kepada shareholder juga kepada stakeholders-lainnya.

4. Indepandency (kemandirian)

Intinya, prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.

5. Fairness(kesetaraan dan kewajaran)

Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak stakeholder sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Diharapkan fairness dapat menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan

 
Redesign by Syar'ie